Rabu, 29 Februari 2012

Uji Karbohidrat

 BAB I
PENDAHULUAN

   A.    LATAR BELAKANG
Karbohidrat adalah polihidroksi aldehid atau keton atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini bila dihidrolisa. Molekul karbohidrat terdiri atas atom-atom karbon, hidrogen dan oksigen. Pada senyawa yang termasuk karbohidrat terdapat gugus –OH, aldehid atau gugus keton. Jumlah atom hidrogen dan oksigen merupakan perbandingan 2:1 seperti pada molekul air.

    B.     RUMUSAN MASALAH
Reaksi – reaksi apa saja yang dapat mengidentifikasi adanya karbohidrat dari beberapa sampel yang tersedia.

    C.    TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini secara umum adalah mengetahui beberapa macam identifikasi karbohidrat.








BAB II
PEMBAHASAN

    A.    MAKSUD DAN TUJUAN
Praktikan mengetahui beberapa macam identifikasi karbohidrat.
    B.     TEORI DASAR
Karbohidrat merupakan sumber energi utama yang diperlukan tubuh manusia. Manusia yang aktif membutuhkan banyak karbohidrat. Akan tetapi apabila terjadi kelebihan karbohidrat, maka kelebihan itu akan disimpan dalam bentuk glikogen serta asam lemak sebagai cadangan energi.
Nama karbohidrat berasal dari istilah “hidrat dari karbon”, hal ini karena rumus umumnya adalah Cn(H2O)n. Akan tetapi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, diketahui bahwa sebenarnya karbohidrat bukanlah hidrat dari karbon. Tetapi merupakan polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton.
Senyawa ini sangat banyak jenisnya, oleh karenanya diperlukan klasifikasi. Karbohidrat dapat digolongkan menjadi 3 atas dasar jumlah satuan dasar penyusunnya. Yang di maksud satuan dasar adalah polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton tunggal. adapun klasifikasinya sebagai berikut :

No.

Aldosa
Gliserosa, etirosa, ribosa, gulosa, glukosa dll
1.
Monosakarida
Terdiri atas 1 satuan dasar.
Ketosa

Ribulosa, xylulosa, psikosa, fruktosa, sorbosa, tagatosa, eritrulosa
Disakarida
Mereduksi
Tak mereduksi


Maltosa, laktosa, selobiosa
Sukrosa, threhalosa
2.
Oligosakarida
Terdiri atas 2 – 10 satuan dasar
Disakarida
Mereduksi
Tak mereduksi
Mannotriosa, robinosa, rhammninosa
Raffinosa,gentionosa, malezitosa.
3.
Polisakarida
Sederhana
Majemuk

Amilum, (amilosa&amilopektin), selulosa,glikogen, deksrin, inulin.


            Pada oligosakarida dan polisakarida, antara satuan dasar satu dengan yang lain dihubungkan oleh ikatan glikosidik (glikosida).
    C.    ALAT DAN BAHAN
v  Alat
1.      Tabung reaksi                         4. Kertas lakmus
2.      Penjepit tabung reaksi            5. Pipet
3.      Lampu spirtus                        6. Waterbath
v  Bahan
1.      Glukosa                                   15. Pereaksi benedict
2.      Fruktosa                                  16. Pereaksi fehling (A&B)   
3.      Galaktosa                                17. Pereaksi Tollens
4.      Laktosa                                   18. Asam klorida pekat
5.      Sukrosa                                   19. Natrium hidroksida 10%
6.      Maltosa                                   20. Fenilhidrasin
7.      Pati kanji                                 21. Aquadest
8.      Kertas saring                           22. Asam pikrat
9.      Madu                                       23. Larutan Iodin dalam KI
10.  HNO
11.  Etanol
12.  Pereaksi seliwanorff
13.  Asam sulfat pekat
14.  Pereaksi molisch (10% α - naftol dalam alkohol)

      D.    FUNGSI ZAT
1.      Glukosa
Fungsi : Sebagai sampel atau zat yang ingin diinditentifikasi
2.      Laktosa
Fungsi : Sebagai sampel atau zat yang ingin diinditentifikasi
3.      Sukrosa
Fungsi : Sebagai sampel atau zat yang ingin diinditentifikasi
4.      Pati Kanji
Fungsi : Sebagai sampel atau zat yang ingin diinditentifikasi
5.      Kertas Saring
Fungsi : Sebagai sampel atau zat yang ingin diinditentifikasi
6.      Madu
Fungsi : Sebagai sampel atau zat yang ingin diinditentifikasi
7.      HCl pekat
Fungsi : Untuk identifikasi dalam hidrolisis polisakarida
8.      NaOH 10%
Fungsi : Untuk menetralkan zat dalam hidrolisis asam
9.      H2SO4 pekat
Fungsi : Untuk menghidrolisis karbohidrat dalam uji molisch
10.  Pereaksi molisch (10% a-naftol dalam alkohol)
Fungsi : Sebagai pereaksi dalam uji identifikasi adanya karbohidrat
11.  Pereaksi benedict
Fungsi : Sebagai pereaksi dalam uji identifikasi adanya sifat pereduksi dalam karbohidrat
12.  Pereaksi fehling (A & B)
Fungsi : Sebagai pereaksi dalam uji identifikasi adanya sifat pereduksi dalam karbohidrat
13.  Aquades
Fungsi : Untuk mengencerkan zat
14.  Larutan lod dalam KI
Fungsi : Untuk menguji adanya amilum

     E.     CARA KERJA
1.      Tes Umum Karbohidrat Dengan Uji Molisch
Siapkan 5 tabung reaksi yang di isi dengan :
A
B
C
D
E
Glukosa
Laktosa
Kanji
Madu 50%
Potongan kertas saring

          Kedalam setiap tabung ditambahkan aquadest. Tambahkan 2 tetes pereaksi molisch (larutan 10% α – nafftol dalam alkohol), gojog beberapa kali, miringkan tabung reaksi, aliri dengan 3 mL H2SO4 pekat melalui dinding tabung reaksi, perlahan – lahan sampai membentuk suatu lapisan pada bagian bawah.
Amati bidang batas antara asam dengan air. Apa yang terjadi.?
Uji Sifat Pereduksi
2.      Uji Fehling
Siapkan 4 tabung reaksi, isi dengan larutan dibawah ini (masing – masing konsentrasinya 2%) :
A
B
C
D
Glukosa
Laktosa
Kanji
Madu

          Masing – masing tabung reaksi diisi dengan 2 mL fehling A dan fehling B, lalu digojog. Tempatkan tabung reaksi dalam penangas air mendidih selama 10 menit. Amati dan catat. Reaksi positif apabila terbentuk endapan merah bata.
3.      Uji Benedict
Siapkan 3 tabung reaksi, isi dengan larutan dibawah ini (konsentrasi 2%)
A
B
C
Glukosa
Sukrosa
Laktosa

          Kedalam masing – masing tabung reaksi ditambahkan 1mL pereaksi Benedict, gojog. Amati dan catat. Reaksi positif apabila terbentuk endapan merah bata.
4.      Uji Adanya Amilum
          Buat larutan kanji 2% dalam air. Saring setengah bagian cairan dengan kertas saring. Filtrat yang diperoleh diberi label tabung B, dan setengah bagian yang tidak disaring diberi label A. masing – masing diberi 2 tetes larutan iodin dalam KI. Bandingkan.
5.      Hidrolisis Polisakarida
          Siapkan 2 tabung reaksi, kedalam masing – masing tabung masukan :
          Tabung A : 2 mL larutan kanji 2%, tabung B : 2 mL larutan kanji 2% + 2 tetes HCl pekat, gojog dengan baik. Tabung B dipanaskan pada pengangas air panas selama 10 menit. Dinginkan. Netralkan larutan dengan NaOH 10%, amati dengan kertas lakmus. Uji kedua tabung dengan larutan iodin dalam KI. Bandingkan warna yang terbentuk.
6.      Hidrolisis Oligosakarida
          Siapkan 2 tabung reaksi, kedalam masing – masing tabung dimasukan :
Tabung A : 2 mL larutan sukrosa 2%, tabung B : 2 mL larutan sukrosa 2% + HCl pekat, gojog dengan baik. Tabung B dipanasakan pada pengangas air panas selama 10 menit. Dinginkan. Netralkan larutan dengan NaOH 10%, amati dengan kertas lakmus. Uji kedua tabung dengan pereaksi benedict. Bandingkan warna yang terbentuk.

    F.     HASIL PERCOBAAN
1.      Tes Umum Karbohidrat
Tabung
A
B
C
D
E
F
Nama
Glukosa
Maltosa
Laktosa
Kanji
Madu 50%
Potongan kertas saring
Hasil (warna)
Terdapat lapisan ungu
Terdapat lapisan ungu
Terdapat lapisan ungu
Terdapat lapisan ungu
Terdapat lapisan ungu
Terdapat lapisan ungu
Ket (+/-)
+
+
+
+
+
+

2.      Uji Sifat Pereduksi
Tabung : isi (larutan 2%)
Hasil (warna) Tes Karbohidrat pereduksi
Uji Fehling
Uji Benedict
A : Glukosa
Endapan merah bata   ( + )
Endapan merah bata   ( + )
B : Sukrosa
Biru ( - )
Tidak ada Endapan merah bata ( - )
C : Laktosa
Endapan merah bata   ( + )
Endapan merah bata  (  + )
D : Kanji
Biru ( - )
-------------------------
E : Madu
Endapan merah bata ( + )
-------------------------
3.      Uji Terhadap Amilum
Tabung
A
B
Nama
Larutan kanji tanpa di saring
Filtrat larutan kanji
Warna setelah + KI
Endapan warna hitam
Larutan Cokelat
4.      Hidrolisis Polisakarida
Tabung
A
B
Nama
Larutan kanji tanpa disaring
Filtrat larutan kanji
 Warna setelah + KI
Merah Ungu
Biru

5.      Hidrolisis Oligosakarida
Sukrosa terhidroliosis menjadi fruktosa dan glukosa. Sukrosa yang tadinya negatif ( - ) setelah dihidrolisis menjadi positif (+) karena telah tereduksi.

     G.    DISKUSI
Ø Uji Molisch
Percobaan  mengenai  karbohidrat  yang  pertama  adalah  uji  Molisch. Sampel  yang  digunakan  adalah  glukosa, laktosa, kanji, madu dan potongan kertas saring. Sampel  ditambah  pereaksi molish yang terdiri dari alpha  naphthol  5% dalam alkohol, kemudian  secara hati-hati ditambahkan H2SO4 pekat, akan terbentuk dua lapisan zat (terbentuknya cincin).  Penambahan H2SO4 dilakukan melalui tepi dinding karena larutan tersebut bersifat eksotermis sehingga panas dari larutan tersebut dapat melubangi dasar  tabung reaksi.  Larutan  H2SO4  akan menghidrolisis ikatan glikosidik (ikatan  antara  satuan  dasar  yang  satu  terhadap yang  lainnya)  karbohidrat  menjadi  monosakarida, selanjutnya  menjadi  dehidrasi  membentuk furfural  dan  derivatnya (turunan) kemudian  menghasilkan monosakarida. Pada batas antara kedua lapisan itu   akan   membentuk cicncin warna ungu   karena   terjadi   reaksi   kondensasi   antara  fulfural   dengan   α-naftol. Berdasarkan hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa semua larutan yang diuji (glukosa, laktosa, kanji, madu dan potongan kertas saring) adalah karbohidrat. Hal ini terlihat jelas dengan adanya perubahan warna pada kelima tabung reaksi yang berisikan larutan karbohidrat tersebut. Larutan yang bereaksi positif memberikan cincin yang berwarna ungu ketika direaksikan dengan alfa-naftol dan asam sulfat pekat.
                 Asam sulfat pekat bertindak sebagai agen dehidrasi yang bertindak pada gula untuk membentuk furfural dan turunannya yang kemudian dikombinasikan dengan alfa-naftol untuk membentuk produk berwarna. Reaksi pembentukan furfural ini adalah reaksi dehidrasi atau pelepasan molekul air dari suatu senyawa. Dimana pereaksi molish membentuk cincin berwarna ungu pada larutan glukosa, laktosa, kanji, madu dan potongan kertas. Cincin ungu  pada glukosa lebih banyak karena merupakan monosakarida. Sedangkan kanji  adalah polisakarida yang harus dihidrolisis menjadi monosakarida terlebih dahulu sebelum terdehidrasi menjadi furfural. Hal ini menunjukkan bahwa pengujian dengan molish sangat spesifik untuk menunjukkan adanya golongan monosakarida (glukosa dan fruktosa), disakarida (sukrosa dan laktosa) dan polisakarida (amilum dan dekstrin) pada larutan karbohidrat.
Ø Uji Fehling
Pereaksi ini dapat direduksi oleh selain karbohidrat yang mempunyai sifat mereduksi  juga dapat direduksi oleh reduktor lain. Pereaksi Fehling terdiri dari dua larutan yaitu Fehling A dan Fehling B. Larutan Fehling A adalah CuSO4  dalam air, sedangkan Fehling B adalah larutan garam KNatrat dan NaOH dalam air. Kedua macam larutan ini disimpan terpisah dan baru dicampur menjelang digunakan untuk memeriksa suatu karbohidrat. Dalam pereaksi ini ion Cu²+   direduksi menjadi ion Cu+ yang dalam suasana basa akan diendapkan menjadi CuO2. Fehling B berfungsih mencegah Cu²+  mengendap dalam suasana alkalis.
                                 2 Cu+ + 2 OH-            Cu2O + H2O
                                                                   Endapan
Uji   fehlings   bertujuan   untuk   memperlihatkan   ada   atau   tidaknya   gula   pereduksi.   Karena prinsip kerjanya adalah grafimetri sehingga dengan mudah dapat ditentukan cuplikan yang mengandung karbohidrat.  Pada   percobaan   terlihat   bahwa  dari 5 (glukosa, sukrosa, laktosa, kanji, madu) sampel yang diujikan hanya 3 sampel yang positif terhadap uji ini, sampel yang memberikan   hasil   positif   adalah glukosa, laktosa dan  madu. Sedangkan pada sukrosa dan kanji diperoleh reaksi yang negatif. Sudah diketahui  bersama bahwa sukrosa tidak mengahasilkan hasil positif terhadap uji fehling (lihat dasar teori), sedangkan   kanji adalah   polisakarida   atau   biasa   disebut   juga   karbohidrat   kompleks   sebab polisakarida  tidak memiliki  gugus  gula reduksi sehingga memberikan  reaksi yang negatif pada uji Fehling.
Ø Uji Benedict
            Uji benedict bertujuan untuk mengidentifikasi gula pereduksi. Pada percobaan ini dengan menguji larutan karbohidrat kedalam 1 ml  larutan benedict yang berada dalam tabung reaksi. Dimana dari ketiga larutan karbohidrat (glukosa, sukrosa, laktosa) ditambahkan larutan benedict, larutan karbohidrat yang bereaksi adalah larutan glukosa dan laktosa. Sedangkan untuk karbohidrat jenis sukrosa dan kanji menunjukkan hasil negatif. Sekalipun aldosa atau ketosa berada dalam bentuk sikliknya, namun bentuk ini berada dalam kesetimbangannya dengan sejumlah kecil aldehida atau keton rantai terbuka, sehingga gugus aldehida atau keton ini dapat mereduksi berbagai macam reduktor, oleh karena itu, karbohidrat yang menunjukkan hasil reaksi positif dinamakan gula pereduksi. Pada sukrosa, walaupun tersusun oleh glukosa dan fruktosa, namun atom karbon anomerik keduanya saling terikat, sehingga pada setiap unit monosakarida tidak lagi terdapat gugus aldehida atau keton yang dapat bermutarotasi menjadi rantai terbuka, hal ini menyebabkan sukrosa tak dapat mereduksi pereaksi benedict.  Dan Reaksi yang diberikan oleh ke-2 larutan karbohidrat tersebut berupa hasil warna larutan yang berwarna merah dan endapan merah bata. Berikut reaksi yang berlangsung :
       O                                          O
       ║                                          ║
R—C—H  + Cu2+ + 2OH- →  R—C—OH + Cu2O
Gula pereduksi                                                Endapan merah bata

Munculnya  endapan merah pada monosakarida (glukosa dan fruktosa) dan disakarida (sukrosa dan laktosa) yang di uji menunjukan adanya sifat mereduksi.  karena  sakarida          dengan  bentuk gugus  aldehid (aldosa), dapat berperan  sebagai  reduktor  yang  mereduksi  Cu2+  pada  reagen  benedict menjadi  Cu+  pada  Cu2O  yang  merupakan  endapan  merah  bata  pada akhir  reaksi  ini dan juga disebabkan oleh adanya gugus aldehid (glukosa) atau keton (fruktosa) bebas dalam molekul karbohidrat yang diuji tersebut. Dalam asam polisakarida atau disakarida akan terhidrolisis pasial menjadi sebagian kecil monomernya. Hal inilah yang dijadikan dasar untuk membedakan polisakarida, disakarida, dan monosakarida.
Ø  Uji Terhadap Amilum
Dalam percobaan uji terhadap amilum, mengidentifikasikan bahwa kanji yang tanpa disaring menhsalilkan warna larutan merah ungu dan filtratlarutan kanji menghasilkan warna biru yang mengidentifikasikan bahwa larutan A (kanji tanpa disaring) merupakan amilopektin dan B (filtrat larutan kanji) merupakan amilosa. Hal ini sejalan dengan teori bahwa amilum yang ditambahkan iodin akan menghasilkan warna biru. Percobaan ini untuk memisahkan antara amilosa dan amilopektin.
Ø Hidrolisis polisakarida
Pada uji iodine, kondensasi iodine dengan karbohidrat, selain monosakarida dapat menghasilkan   warna   yang   khas.   Amilum   dengan   iodine   dapat   membentuk kompleks   biru,   sedangkan   dengan   glikogen   akan   membentuk   warna   merah.   Hal ini  disebabkan  karena dalam larutan pati, terdapat unit-unit glukosa yang membentuk rantai heliks karena adanya ikatan dengan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini menyebabkan pati dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium yang dapat masuk ke dalam spiralnya, sehingga menyebabkan warna biru tua pada kompleks tersebut. Micelles ini dapat mengikat I2 yang terkandung dalam reagen iodium dan memberikan warna biru khas pada larutan yang diuji. Pada saat pemanasan, molekul-molekul akan saling menjauh sehingga micellespun tidak lagi terbentuk sehingga tidak bisa lagi mengikat I2. Akibatnya warna biru khas yang ditimbulkan menjadi menghilang. (Fessenden, 1997: 609).
Percobaan uji ini bertujuan untuk memisahkan antara polisakarida, monosakarida dan disakarida. Iodium memberikan warna kompleks dengan polisakarida. Amilum (kanji) memberikan warna biru pada iodium, sedangkan kanji yang sudah dihidrolisis sebagian dan dinetralkan seharusnya memberikan warna merah sampai coklat dengan iodium, namun dalam percobaan ini dihasilkan warna kuning kehijauan dalam pengujian kanji yang terhidrolisis mukin dikarenakan pada pemberian NaOH untuk menetralkan larutan terlalu berlebih (seharusnya nya sampai pH=7 namun dalam percobaan ini pH=9) sehingga menyebabkan kesalahan dalam identifikasi.

     H.    KESIMPULAN
1.    Karbohidrat   dibagi   menjadi   tiga   golongan,   yaitu :  monosakarida, oligosakarida,   dan   polisakarida   tergantung   banyaknya   atom   C   penyusun molekulnya.
2.   Uji  Molisch  adalah  pengujian  untuk mengetahui  senyawa  mengandung karbohidrat  atau tidak. Uji  Molisch  bereaksi  positif  pada  semua karbohidrat dengan  membentuk cincin  ungu. Cincin ungu ada  glukosa  lebih  banyak karena  glukosa merupakan  monosakarida,sedangkan  kanji (amilum) adalah  polisakarida  yang harus  dihidrolisis  menjadi  monosakarida  dahulu  sebelum  terdehidrasi menjadi  furfural.
3.      Pada uji  fehlings dan benedict  bertujuan   untuk   memperlihatkan   ada   atau   tidaknya   gula   pereduksi.   Pada  uji  benedict dan fehling bahan yang positif bersifat pereduksi menunjukkan  warna  merah  bata. Bahan positif terhadap uji Fehling yaitu glukosa, laktosa, madu. Bahan yang positif terhadap uji benedict = glukosa, sukrosa, laktosa
4.   Perconaan   adanya amilum mengahasilkan warna biru. Uji ini digunakan untuk memisahkan   amilum   yang   terkandung   dalam   larutan   tersebut.  Reaksi positifnya ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi biru.
5.      Percobaan hidrolisis polisakarida. Amilum dengan iodine dapat   membentuk kompleks biru, sedangkan apabila telah terhidrolisis ( kemudian dinetralkan) akan  membentuk warna merah. 
6.      Hidrolisis Oligosakarida
Sukrosa terhidroliosis menjadi fruktosa dan glukosa. Sukrosa yang tadinya negatif ( - ) setelah dihidrolisis menjadi positif (+) karena telah tereduksi.          













LAMPIRAN

      A.    PERTANYAAN
Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini biasa dijadikan acuan apa saja teori yang diperlukan, dan apa saja yang perlu dibahas.

1.    Dari beberapa bahan berikut ini, perkirakan manakah yang menghasilkan reaksi positif  terhadap uji molisch? (Glukosa, laktosa, kanji,madu dan potongan kertas saring).
     Jawab : Uji molisc merupakan uji identifikasi adanya karbohidrat.
    Glukosa, laktosa, kanji, potongan kertas saring akan menghasilkan reaksi positif terhadap uji molish karena glukosa, laktosa, kanji, madu dan potongan kertas saring adalah karbohidrat. Hal ini dapat dibuktikan dengan terbentuknya warna ketika direaksikan dengan alfa-naftol dan asam sulfat pekat. Diperkirakan, konsentrasi asam sulfat pekat bertindak sebagai agen dehidrasi yang bertindak pada gula untuk membentuk furfural dan turunannya yang kemudian dikombinasikan dengan alfa-naftol untuk membentuk produk berwarna ungu. Reaksi pembentukan furfural ini adalah reaksi dehidrasi atau pelepasan molekul air dari suatu senyawa.

2.    Karbohidrat yang bagaimanakah yang positif terhadap uji fehling, uji benedict?
     Jawab : Karbohidrat  yang positif  adalah karbohidrat yang mengandung aldehid atau keton bebas




3.    Tulis reaksi antar glukosa dengan pereaksi fehling, pereaksi benedict!
     Jawab :

 







4.    Manakah diantara karbohidrat berikut yang bereaksi positif terhadap uji fehling, uji benedict? (glukosa, laktosa, sukrosa, kanji, madu, kertas saring). Mengapa? Tinjaulah dari struktur molekulnya!
 Jawab :
-          Uji fehling = glukosa, laktosa, madu.
Karena ketiga bahan tersebut mengandung gugus aldehid. Uji  Fehling bertujuan  untuk mengetahui  adanya  gugus  aldehid.
-          Uji benedict = glukosa, sukrosa, laktosa.
Karena bahan tersebut mengandung gugus keton atau aldehid. Uji Fehling bertujuan  untuk mengetahui  adanya  gugus  aldehid atau keton.

5.      Amilum terdiri atas 2 molekul yang berbeda, yaitu amilosa dan amilopektin. Apakah perbedaan keduanya? Tinjaulah dari struktur molekul dan kelarutannya.
Jawab : Perbedaan Amilosa dan amilopektin
Tinjauan
Amilosa
Amilopektin
Sktruktur
Berantai lurus
Berantai cabang
Kelarutan
mudah larut
Kurang larut

6.      Apabila Iod diteteskan kedalam larutan amilum, warna apa yang terjadi? Jelaskan.
Jawab : Iod + Amilum              Biru
Penamabahan iodium digunakan untuk memisahkan   amilum   atau   pati   yang   terkandung   dalam   larutan   tersebut. Reaksi positifnya ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi biru.

7.      Apabila ada larutan amilum, setengah bagian larutan disaring dengan kertas saring, setengah bagian yang lain dibiarkan tidak disaring. Lalu masing-masing diberi 2 tetes larutan iodin dalam KI. Apakah warna yang di hasailkan sama atau berbeda? Mengapa?
Jawab : Berbeda, karena uji tersebut merupakan uji pemisahan antara amilosa dan amilopektin. Sehingga uji ini akan menghasilkan warna yang spesifik untuk setiapbahannya. Uji ini akan menunjukkan bahwa larutan yang mengandung amilopektin akan berwarna merah ungu dan larutan yang mengandung amilosa akan mengahasilkan warna biru.

8.      Reaksi apa saja yang terjadi jika larutan amilum ditambah HCI lalu dipanaskan? Warna apa yang tampak bila ke dalam larutan yang telah dipanaskan tadi (dan telah dinetralkan) ditambahkan Iod?
Jawab : Reaksi hidrolisis,  warna merah ungu.

9.      Tuliskan tahapan-tahapan pemecahan polimer amilum hingga menjadi monomer-monomer penyusunnya (glukosa).
Jawab : Amilum ® Dekstrin  ®   Maltosa   ®  Glukosa
                   (polisakarida)  (ologosakarida)  (Disakarida)  (monosakaraida)

10.  Uji apakah yang merupakan uji khas untuk fruktosa? Apakah madu menghasilkan uji positif terhadap tes tersebut?
 Jawab : Fehling, madu menghasilkan uji positif terhadap uji fehling. Monosakarida dan disakarida kecuali sukrosa dapat ditunjukkan dengan pereaksi Fehling. Uji  Fehling bertujuan  untuk mengetahui  adanya  gugus  aldehid.  Reagent  yang digunakan  dalam  pengujian  ini  adalah Fehling A  (CuSO4)  dan  Fehling B  (NaOH  dan KNa tartarat). Madu menghasilkan uji positif terhadap uji ini karena memiliki gugus aldehid.

    B.     DOKUMENTASI

 












Fessenden. 1986. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Irish. 2009. Karbohidrat. http://sweetir1s.multiply.com/journal/item/5/karbohidrat.            

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar